Malam kelabu, tak satupun bintang ada. Aku dan sosok laki laki dengan postur tubuh yang tinggi dan kuat itu singgah di pinggir jalan untuk menyelesaikan perselisihan. "Kau tak pernah mengerti aku, aku sudah cape mengerti dirimu sedangkan kau gak pernah sedikit saja mengerti egois" ujar laki laki tinggi itu dengan suara yang keras dan air mata yang jatuh melewati pipinya. Aku ingin menghapus air matanya tapi dia terlanjur sakit.
"Sifatmu yang terlalu berlebihan" hanya kata itu yang ku pegang dari inti permasalahan kami yang rumit ini dan perselisihan yang panjang. Hingga akhirnya aku terucap kata itu lagi untuk kesekian kalinya "kita akhiri saja hubungan kita sampai disini". Kata kata dengan janji bahwa aku tidak akan mengulang itu lagi dan berjanji untuk tidak akan meninggalkannya apapun kondisinya.
Tak satupun orang ada disana untuk mendengarkan maslah yang berat ini. Aku ingin menyerah pada diriku sendiri bahwa kenyataannya akulah yang tak pantas untuknya. Saat keadaan mulai mereda saat itu juga malam semakin gelap. hanya lampu sorot pinggir jalan yang meneranginya untuk ku melihat wajahnya yang penuh dengan kesal dan air mata.
"Mengapa dia kasar sekali padaku disaat aku tak melakukan kesalahan apa apa"
Tersentak dalam hati memikirkan "kenapa aku sebodoh ini". kegembiraan yang tercipta kini menjadi kesedihan karna takut kehilanganmu. Aku terlalu egois karna hanya memikirkan bagaimana caranya aku bahagia tanpa memikirkan orang lain, memikirkan bagaimana caranya aku bisa bahahgia dengan menindas kebahagiaan orang lain.
Pria yang dulu sangat suka tersenyum padaku kini berubah menjadi pemurung karna diriku. Tak ada yang lebih bermakna selain kita lewati semua hal yang masih dalam sifat positif bersama. kita hadapi maslah sama sama seperti yang lalu.
Aku pergi meninggalkanya dengan penuh penyesalan sampai aku tersadar akulah yang paling egois di hubungan ini. Dia terus mengikuti sampai aku dekat dengan rumah, dia selalu mengantar ku pulang karna ketika malam daerah rumah ku sangatlah sepi. Setelah dekat dia pergi meninggalkanku untuk segera pulang.
Tiba dirumah pesan teks selalu masuk dengan ucapan untuk kesekian kalinya "Maafkan aku, aku yang salah". Tapi caraku melupakan itu semua adalah dengan tidur dan memimpikan sesuatu hal yang lebih baik dari kenyataan hidup.
Kadang ingin menyerah dengan keadaan, keadaan dimana tak satupun orang mengerti tenang perasaan ku, perasannya, dan hubungan kami. semua orang mengerti bahwa hubungan kami baik baik saja dan menyenangkan tapi kenyataannya sulit untuk difahami bahwa kami berdua memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, memiliki keinginan yang berbeda bahkan sifat yang berbeda. entah cara apa yang dapat meyatukan hingga membuat kesamaan dalam hubungan kami.
Suatu hari pernah kami membuat mimpi "menikah sesudah wisuda", itu mimpi kami. entah itu akan terwujud atau tidak. setidaknya niat kami indah. Kami serahkan semua urusan itu pada Allah swt. Mimpi itu adalah mimpi indah tapi belum punya kepastian yang jelas. ada dimana seseorang tidak diyakini dengan apa yang merak impikan. tapi disini aku yakin kalau mimpi itu bisa menjadi nyata.
Karangan Fiksi by: Sitinurkarimah
*Masih belajar
"Sifatmu yang terlalu berlebihan" hanya kata itu yang ku pegang dari inti permasalahan kami yang rumit ini dan perselisihan yang panjang. Hingga akhirnya aku terucap kata itu lagi untuk kesekian kalinya "kita akhiri saja hubungan kita sampai disini". Kata kata dengan janji bahwa aku tidak akan mengulang itu lagi dan berjanji untuk tidak akan meninggalkannya apapun kondisinya.
Tak satupun orang ada disana untuk mendengarkan maslah yang berat ini. Aku ingin menyerah pada diriku sendiri bahwa kenyataannya akulah yang tak pantas untuknya. Saat keadaan mulai mereda saat itu juga malam semakin gelap. hanya lampu sorot pinggir jalan yang meneranginya untuk ku melihat wajahnya yang penuh dengan kesal dan air mata.
"Mengapa dia kasar sekali padaku disaat aku tak melakukan kesalahan apa apa"
Tersentak dalam hati memikirkan "kenapa aku sebodoh ini". kegembiraan yang tercipta kini menjadi kesedihan karna takut kehilanganmu. Aku terlalu egois karna hanya memikirkan bagaimana caranya aku bahagia tanpa memikirkan orang lain, memikirkan bagaimana caranya aku bisa bahahgia dengan menindas kebahagiaan orang lain.
Pria yang dulu sangat suka tersenyum padaku kini berubah menjadi pemurung karna diriku. Tak ada yang lebih bermakna selain kita lewati semua hal yang masih dalam sifat positif bersama. kita hadapi maslah sama sama seperti yang lalu.
Aku pergi meninggalkanya dengan penuh penyesalan sampai aku tersadar akulah yang paling egois di hubungan ini. Dia terus mengikuti sampai aku dekat dengan rumah, dia selalu mengantar ku pulang karna ketika malam daerah rumah ku sangatlah sepi. Setelah dekat dia pergi meninggalkanku untuk segera pulang.
Tiba dirumah pesan teks selalu masuk dengan ucapan untuk kesekian kalinya "Maafkan aku, aku yang salah". Tapi caraku melupakan itu semua adalah dengan tidur dan memimpikan sesuatu hal yang lebih baik dari kenyataan hidup.
Kadang ingin menyerah dengan keadaan, keadaan dimana tak satupun orang mengerti tenang perasaan ku, perasannya, dan hubungan kami. semua orang mengerti bahwa hubungan kami baik baik saja dan menyenangkan tapi kenyataannya sulit untuk difahami bahwa kami berdua memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, memiliki keinginan yang berbeda bahkan sifat yang berbeda. entah cara apa yang dapat meyatukan hingga membuat kesamaan dalam hubungan kami.
Suatu hari pernah kami membuat mimpi "menikah sesudah wisuda", itu mimpi kami. entah itu akan terwujud atau tidak. setidaknya niat kami indah. Kami serahkan semua urusan itu pada Allah swt. Mimpi itu adalah mimpi indah tapi belum punya kepastian yang jelas. ada dimana seseorang tidak diyakini dengan apa yang merak impikan. tapi disini aku yakin kalau mimpi itu bisa menjadi nyata.
Karangan Fiksi by: Sitinurkarimah
*Masih belajar
Komentar
Posting Komentar